Pelnap Ketapang : #KerlapKerlip 114 :Tuhan Yesus mau mengubah Hidup kita menjadi lebih indah

Rabu, 15 April 2015

#KerlapKerlip 114 :Tuhan Yesus mau mengubah Hidup kita menjadi lebih indah


Hallo teman teman Kerlap Kerlip kali ini menampilkan cerita yang seru loh??? 

pernah mengalami yang namanya " salah paham " ???  Salah Paham atau gak ngerti ya  ???

kita suka sering kali salah paham kepada teman , guru  orang tua, bahkan Tuhan loh... ...coba baca cerita dibawah ini ....


Yesus Mengubah Hidup Kita

Ibu Tina adalah seorang pengurus sekolah. Dia tinggal di samping sekolah, tempatnya bekerja. Dia punya sepuluh patung kurcaci di kebunnya.  Ami adalah seorang murid di sekolah itu. Dia sangat suka menamai segala sesuatu. Dia menamai sepedanya “Roda” dan tas sekolahnya “Kari”. Gerejanya dia namai “Petak Salib” karena ada poster bergambar salib di taman luarnya. Sekolahnya dia namai “Muka Pucat” karena catnya yang putih. Dia juga punya nama untuk tiap patung kurcaci Ibu Tina. Si Penggembira, Si Konyol, Si Penggerutu, Si Pengantuk, Si Rapi, Si Tukang Senyum, Si Kecil, Si Cerewet, dan Si Slebor.



 Kurcaci terakhir yang matanya berbinar dan jenggot hitamnya sudah memudar di namai Tuan Andreas, seperti nama kepala sekolahnya. Liburan sekolah tiba. Muka Pucat terkunci dan Ibu Tina berada jauh di tepi pantai dalam mobil karavannya. Ami dan sahabat karibnya, Laura, lewat di depat rumah Ibu Tina. Ami memamerkan patung-patung kurcaci Ibu Tina kepada Laura, “Lihat patung-patung itu. Aku punya nama untuk mereka semua,” katanya.






“O, ya? Apa saja?” sahut Laura. Ami mulai mengenalkan mereka “Si Penggembira, Si Konyol, Si Penggerutu, Si Pengantuk, Si Rapi, Si Tukang Senyum, Si Kecil, Si Cerewet, Si Slebor……”


“Oh tidak!” Ami terperanjat. “Satu hilang. Tuan Andreas hilang!”

“Mungkin Ibu Tina membawa Tuan Andreas pergi berlibur,” Laura terkikik.

“Jangan konyol,” sahut Ami.

“Kalau begitu, kenapa dia bisa hilang?” tanya Laura.

Ami mengerutkan dahi, “Mungkin dia dicuri.

Malam itu. Ami tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan misteri hilangnya si patung kurcaci.Hal pertama yang Ami lakukan keesokan paginya adalah mengecek apakah patung kurcaci yang hilang, telah kembali. Ternyata belum. Bahkan, lebih buruk lagi, patung kurcaci kedua si Slebor, juga menghilang. Ada yang aneh, piker Ami. Aku harus menghentikannya.Ami melompati pagar lalu masuk ke kebun. Dia bersembunyi di balik rumpun mawar selama tiga jam. Bersembunyi di sana sungguh membosankan dan tidak mengenakkan karena ada banyak duri.

Tetapi Ami sudah bertekad, kalau para pencuri datang dan hendak mencuri patung kurcaci lainnya, dia akan melompat keluar dan menghentikan mereka.Ami hampir menyerah dan ingin pulang untuk makan siang waktu dia melihat seoran laki-laki jangkung dan berjenggot berjalan memasuki kebun. Laki-laki itu mengambiln sebuah patung kurcaci dan memasukkannya ke dalam tasnya. Betapa terkejutnya Ami saat dia mengenali pencuri itu. Laki-laki itu ternyata Pak Andreas, kepala sekolahnya. Dia tidak berani melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan berteriak di depan kepala sekolahnya, “Berhenti, Pencuri!” Dia hanya berdiam diri di sana sampai Pak Andreas lenyap dari pandangannya.

Dalam perjalanan pulang, Ami mampir ke Petak Salib, tempat Ibu Ela, guru Sekolah Minggunya,
mengajar Kelompok Bermain tiap pagi.“Apa yang akan Ibu lakukan jika Ibu melihat seorang mencuri sesuatu?” tanya Ami kepada Ibu . Ibu Ela bepikir sejanak, “Tergantung,” sahutnya. “Yang kamu maksud ‘sesuatu’ itu apa?”. “Misalnya, benda-benda milik sekolah,” kata Ami. “Kalau begitu, Ibu akan melapor kepada kepala sekolah,” sahut Ibu Ela. “Tetapi, bagaimana jika si pencurinya adalah kepala sekolah itu sendiri?” seru Ami. “Saya tadi melihat Pak Andreas mencuri patung kurcaci di kebun Ibu Tina. Dia sudah mengambil tiga.


Saya tidak tahu harus berbuat apa. Apakah menurut Ibu, saya harus melaporkannya kepada polisi?”
Menurut Ibu Ela itu bukan ide yang baik,”Begini saja. Bagaimana kalau kamu serahkan masalah
ini kepada Ibu,” pintanya. “Ibu akan ke sekolah dan memeriksa semua.”

Malamnya, Ami tidak dapat tidur nyenyak lagi. Dia terjaga dan bertanya-tanya apakah di luar
sana, Pak Andreas sedang mencuri patung kurcaci lagi dan apakah Ibu Ela akan mampu menghentikan Pak Andreas.

Keesokan harinya, tak lama setelah Ami selesai sarapan, bel pintu berdering. Drrrrrrrring. Ami bergegas membukakan pintu. Rupanya Ibu Ela. “Sebaiknya kamu ikut ke sekolah bersama Ibu, Ami,” ajak Ibu Ela. “Pak Andreas ingin berbicara denganmu.” “Aduh! Tolong saya, Bu! Pak Andreas mau bilang apa?” Namun, Ami tak punya pilihan lain. Dia harus pergi ke sekolah.

Kaki Ami gemetar saat berdiri menunggu di luar ruangan kepala sekolah. Hatinya sangat cemas. Akhirnya pintu terbuka. Pak Andreas keluar. “Ikuti bapak,” pintanya. Mereka berbelok di pojok, turun ke koridur, menaiki tangga, turun lagi ke koridor lain, dan mausk ke ruang seni. Di sana Ami melihat sesuatu yang indah: tiga buah patung kurcaci berkilauan. Ketiganya baru dicat dengan warna pelangi.

“Hem,” Pak Andreas berdeham. “Kamu bisa lihat sendiri, Ami, Bapak tidak mencuri. Bapak hanya ingin mencerahkan warna patung-patung taman Ibu Tina saat Ibu Tina pergi. Mengecat patung kurcaci merupakan menjadi hobi rahasia Bapak saat liburan.”

O, jadi itu yang sebenarnya terjadi. Pak Andreas mengecat patung kurcaci-kurcaci itu, bukan
mencuri, piker Ami dengan perasaan lega. “Kesalahpahaman ini mengingatkan saya pada Tuhan, pak.” Komentar Ami. “Begitu, ya?” sahut Pak Andreas dengan wajah terkejut. “Ya,” Ami mengangguk. “Dulu saya juga sering salah paham tentang Dia. Dulu saya piker, Tuhan suka mencuri kesenangan dalam kehidupan seseorang. Kemudian saya mengerti bahwa yang Dia inginkan hanyalah membuat hidup saya lebih cerah dan lebih baik. Seperti yang Bapak lakukan pada patung-patung kurcaci itu.”

“Tetapi, bukan berarti, Tuhan membawa-bawa kuas raksasa. Maksud saya, melalui Yesus……” “Bapak mengerti, Ami,” sahut pak Kepala Sekolah sambil tersenyum. “Pandanganmu itu sangat baik. Sangat bagus.

Coba baca Yohanes :7-10


Pencuri datang untuk mencuri dari kita,
Yesus memberikan hidup baru.

Pencuri mengambil uang kita,
Yesus membuat kita aman.

Mempercayai seorang pencuri itu adalah kebodohan,
sbab pencuri hanya menceritakan sebuah kebohongan
Namun, Yesus benar-benar mencintai kita.
Jadi, percaya pada-Nya adalah tindakan yang bijaksana.




Kekuatan  Doa
(Coba baca : Lukas 18:1)

Kekuatan Melalui Doa,Bila letih dari kesibukan sehari-hari
Kristus selalu cari saat untuk berdoa, Ia mencari tempat yang sunyi sepi
Untuk bicara dengan Allah dan meminta curahan rahmatNya
Maka bila aku letih dan lemah, Aku selalu berdoa menghadap Allah

Dalam naungan kuasa doa, Kita tidak mengenal kalah
Sebab kekuatan kita diperbaharuiNya
Dari yang terbesar sampai yang terkecil
Barangsiapa berseru kepadaNya, akan beroleh anugerah

Maka bila aku letih dan lemah
Aku selalu berdoa menghadap Allah
“Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan,
bahwa mereka harus selalu berdoa”



Yuk teman teman melihat kegiatan
Sekolah Minggu GPdI Ketapang 

ini juara menghias telur dan tempat telur